Follow by Email

Selasa, 21 Agustus 2012

This is My Short Story


SALAH SANGKA
 
Hari ini sempurnalah kekesalanku pada adikku Rahma. Betapa tidak aku memergokinya sedang mengobrak-abrik rak buku meja belajarku.
“ Hei, Rahma apa yang sedang kamu lakukan di kamarku ?”.dengan wajah yang sangat marah. Eh, ia dengan entengnya menjawab
“Aku mencari buku diary kakak itu lho hadiah dari sunsilk, karena aku mau lihat artii warna biru kertas surat yang tadi diberikan oleh temanku Mira di sekolah”. Aku marah bercampur kesal mendengar jawabannya.
“ Rahma, kamu itu masih kecil sekolah saja kamu masih SD buku diary ini khusus diperuntukan buat kakak yang sudah remaja, karena kamu belum waktunya sana keluar jangan ingin tahu rahasia orang ! ”. Adikku ngeloyor pergi sambil cemberut dan mengomel.
 “Wah…itu pasti akal-akalan kakak saja, mungkin dia takut ketahuan rahasiannya dan takut terbongkar di buku diary itu”.
Sepeninggal adikku aku berpikir  tentang kelakuan Rahma akhir-akhir ini yang sangat membuatku jengkel, Betapa tidak dia dengan seenaknya masuk ke kamarku dan mengobrak-abrik kamar lihat ini, lihat itu bahkan baju-baju baruku sering dicobanya. Berulangkali aku memperingatkannya agar tidak usil di kamarku, eh dia malah semakin menjadi-jadi yang paling aku sebalkan dainya  ketika dia menemukan buku diaryku yang isinya sangat aku rahasiakan, padahal buku diary itu Aku simpan sangat hati-hati supaya adikku tidak menemukannya.
            Dua hari lamanya Aku tidak bertegur sapa dengan adikku sebab aku masih kesal dengan kelakuannya tempo hari. Melihat keadaan seperti ini Ibu berkata
“ Kak, kenapa kakak tidak pernah bermain dengan adikmu?”. Aku jawab dengan alasan
“Aku sangat sibuk dengan tugas di sekolahku. Ibu tersenyum mendengar jawabanku
 “ Kakak, kamu tidak boleh bersikap seperti itu Rahma masih kecil dan dia sangat mengagumimu sehingga apa yang kau lakukan ingin pula ia melakukannya”. Namun hatiku tidak merasa sejuk dengan perkataan ibuku itu”.
            Keesokkan harinya aku berangkat ke Sekolah dan tidak lupa berpamitan kepada orangtuaku,
“ Ayah Ibu aku berangkat ke Sekolah dulu ya.”
“ Kakak, belajar dengan baik dengarkan semua yang ibu Guru terangkan”. Dan aku berangkat ke Sekolah dengan menggunakan mobil. Sesampainya di Sekolah kulihat teman-teman sudah berkumpul sambil ngerumpi pasti tentang kecengannya itu. Sambil menyapa aku perlihatkan foto artis favoritku yang ku dapat dari tabloid kemarin sore. Di Sekolah aku bersahabat dengan teman sebangkuku  sampai-sampai rahasia pribadi pun sering kami tukar bersama.

            Minggu kelabu datang,Aku terkena tipes akut vonis Dokter ini menyebabkan Aku harus berbaring tak berdaya di rumah sakit. Setiap hari ibu dan ayah bergantian menjagaku dengan penuh kasih sayang. “Kakak, ini ada hadiah yang sangat indah dari orang yang sering membuatmu kesal”. Kata ibu ketika aku sedang termenung memikirkan sahabat yang tak kunjung datang menengokku. Dengan perasaan enggan kuterima bungkusan kado yang tak rapi itu, dalam pikiranku paling-paling kue murah dari warung sebelah rumahku. Tetapi alangkah terkejutnya aku ketika aku buka dan melihat isi hadiah itu tak kusangka barang yang diberikan adikku adalah barang impianku sejak lama. “ Bu, bagaimana dia tahu baju ini yang sangat aku inginkan ?” tanyaku dengan rasa haru. Ibu hanya tersenyum dan mengangkat bahu penuh maklum. Ayah yang sejak tadi mendengarkan ngkat bicara “ Kakak, rasa ingin tahu Rahma  yang menyebabkan dia tahu keinginnanmu itu, makannya jangan suka judes pada adikmu! ”. tegur ayah. Mendengar perkataan Ayah aku menangis terharu dan rasa penyesalan karena selama ini aku selalu berprasangka buruk pada adikku yang sangat sayang padaku.
            Seminggu sudah aku di rumah sakit dan Dokter memperbolehkan aku pulang dengan syarat harus memperbanyak istirahat dan jangan lupa meminum obatnya. Tiba di rumah yang pertama aku cari si jahil yang sangat kurindukan Rahma. Sambil berlari kecil kupanggil namanya, “ Rahma…kakak sudah pulang!!”. Tapi tetap tak kuperoleh jawaban, sambil terus mencari ke setiap ruangan aku terus memanggil namanya. Tiba-tiba dari arah belakang terdengar bunyi balon pecah “DUAAR!” aku terlompat sambil berteriak “AUW!” terdengar cekikik jahil yang pasti milik si jahil adikku, sambil melotot aku terkam tubuhnya dan berkata “ Awas ya aku bikin kamu terkikik selamanya!”. Rahma mengelinjang geli ketika tanganku mulai beraksi mengelitiknya, melihat itu ibu dan ayah hanya tersenyum bahagia melihat kerukunan sudah hadir kembali diantara kami.
            Menjelang tidur, malam itu aku berdo’a lama sekali memohon kepada Allahy SWT semoga kebahagiaan ini jangan sampai hilang karena prasangkaku yang berlebihan pada adikku. Maafkan kakak ya Rahma…

This is my first short story and Rahmania my inspiration. She is my sweety sister :)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar